Jumat, 25 Oktober 2013

Penyimpanan Produk Turunan Kacang2an "Penyimpanan Soyghurt"



TUGAS KELOMPOK
TEKNOLOGI PENYIMPANAN HASIL PERTANIAN

“Metode Penyimpanan Soyghurt”

Disusun Oleh:
Beny Setiawan
Romdatul Sholehah
Anania Rahma
Ari Wijayanto
Fitri Afrianti

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2013


METODE PENYIMPANAN SOYGURT

1.      Susu Kedelai
Susu kedelai adalah cairan berwarna putih seperti susu sapi, tetapi dibuat dari ekstrak kedelai. Diproduksi dengan menggiling biji kedelai yang telah direndam dalam air. Hasilnya disaring hingga diperoleh cairan susu kedelai, dimasak dan diberi gula dan essen atau cita rasa untuk meningkatkan rasanya. Susu kedelai sudah sejak abad ke-2 sebelum masehi dibuat di negeri Cina. Dari sana kemudian berkembang ke Jepang dan setelah Perang Dunia ke-II masuk ke negara-negara Asean.
Di Indonesia, perkembangannya sampai saat ini masih ketinggalan dibandingkan dengan Singapura, Malaysia dan Phillipina. Di Malaysia dan Phillipina sejak tahun 1952 telah dikembangkan susu kedelai dengan nama dagang "Vitabean", yang telah diperkaya dengan vitamin dan mineral. Di Phillipina juga dikenal susu kedelai yang populer dengan nama "Philsoy". Baru pada beberapa tahun terakhir, di negara kita dikenal susu kedelai dalam kemasan kotak karton (tetrapack) yang diproduksi oleh beberapa industri minuman.
Komposisi gizi susu kedelai hampir sama dengan susu sapi (lihat tabel). Karenanya susu kedelai dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi. Terutama bagi orang yang alergi susu sapi, yaitu mereka yang tidak punya atau kurang enzim laktase dalam saluran pencernaannya, hingga tidak mampu mencerna laktosa dalam susu sapi. Akibatnya, laktosa akan lolos ke dalam usus besar dan akan dicerna oleh jasad renik yang ada di sana. Efeknya orang tersebut akan menderita diare tiap kali minum susu sapi. Orang yang tidak toleran laktosa (lactose intolerans) ini pada umumnya adalah orang dewasa yang tidak banyak minum susu pada waktu masih kecil. Karenanya banyak diderita oleh orang-orang di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin dan negara-negara berkembang.
Mutu protein dalam susu kedelai hampir sama dengan mutu protein susu sapi. Misalnya Protein Efisiensi Rasio (PER) susu kedelai adalah 2,3 dibandingkan PER susu sapi 2,5. PER 2,3 artinya setiap gram protein yang dimakan akan menghasilkan pertambahan berat badan pada hewan percobaan (tikus putih) sebanyak 2,3 gram pada kondisi percobaan baku. Susu kedelai tidak mengandung vitamin B12 dan kandungan mineralnya terutama kalsium lebih sedikit dibanding susu sapi. Karenanya dianjurkan penambahan atau fortifikasi mineral dan vitamin pada susu kedelai yang diproduksi oleh industri besar. Susu kedelai inilah nantinya yang akan di fermentasi menggunakan bakteri asam laktat dan menjadikannya soyghurt.

2.      Soyghurt
Soygurt merupakan hasil fermentasi susu kedelai dengan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus. Susu terfermentasi dikonsumsi karena kesegaran, aroma, dan teksturnya yang khas. Beberapa komoditi kacang-kacangan telah digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat susu yang dikenal sebagai susu nabati. Susu nabati yang umum ditemukan dipasar ialah susu yang dihasilkan dari kedelai. Untuk mendapatkan nilai tambah secara ekonomi, peningkatan nilai gizi, daya terima konsumen terhadap produk kacangan-kacangan serta peningkatan ragam pilihan konsumen akan produk kacangkacangan perlu upaya-upaya proses lebih lanjut. Salah satu upaya tersebut ialah dengan cara fermentasi susu kacang-kacangan menggunakan bakteri asam laktat.
Proses pembuatan soyghurt dan kultur (biakan murni) starter yang digunakan pada dasarnya sama seperti pada pembuatan yoghurt. Yoghurt merupakan hasil akhir dari proses fermentasi dengan menggunakan kultur starter bakteri streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus. Proses fermentasi dapat terjadi karena pada susu sapi terdapat protein susu (kasein) dan gula susu (laktosa). Laktosa digunakan oleh kedua starter bakteri di atas sebagai sumber karbon dan energi utama untuk pertumbuhanya. Proses fermentasi tersebut menyebabkan laktosa berubah menjadi asam piruvat, yang selanjutnya dirubah menjadi asam laktat. Asam laktat menyebabkan penurunan pH susu, atau meningkatkan keasaman. Akibatnya kasein menjadi tidak stabil dan terkoagulasi (menggumpal), membentuk gel yoghurt, berbentuk setengah padat (semi padat), dan menentukan tekstur yoghurt. Selain itu asam laktat juga berfungsi memberi memberikan ketajaman rasa asam, dan menimbulkan aroma khas pada yoghurt. Tetapi proses fermentasi pada pembuatan soyghurt mempunyai kesulitan. Yang ini karena jenis karbohidrat yang terdapat dalam susu kedelai sangat berbeda jauh dengan karbohidrat dari susu sapi.
Karbohidrat pada susu kedelai terdiri dari golongan oligosakarida yang tidak dapat digunakan sebagai sumber energi maupun sebagai sumber karbon oleh kultur starter. Hasil penelitian menunjukan bila susu kedelai langsung dinokulasi (ditambah) dengan starter dan diinkubasi selama empat jam pada suhu 45o C, ternyata tidak menghasilkan perubahan, baik pH maupun kekentalan pada susu kedelai. Dengan kata lain tidak terbentuk yoghurt kedelai (soyghurt). Maka supaya proses fermentasinya berhasil, susu kedelai terlebih dahulu ditambah sumber gula, sebelum diinokulasi. Hasil percobaan menunjukkan, soyghurt dapat dibuat dengan hasil baik, bila kadar protein susu kedelai berada antara 3,6 sampai 4,5 persen, dan dengan penambahan sumber gula sebanyak 4 sampai 5 persen. Sumber gula yang dapat ditambah diantaranya, sukrosa (gula pasir), glukosa, laktosa, fruktosa, atau susu bubuk skim. Pertama kali harus disiapkan dalam pembuatan soyghurt, adalah bibit bakteri L.bulgaricus dan S. thermophilus, serta susu kedelai yang baru. Ada dua cara mendapatkan starter soyghurt, yaitu dari yoghurt yang belum dipasteurisasi dan dari bibit (biakan) murni. Perlu diketahui, ada dua macam yoghurt dijual di pasar, yoghurt dengan mikroba masih hidup, dan yang sudah dipasteurisasi atau mikrobanya yang sudah dimatikan. Ukuran satu setengah sendok the yoghurt cukup untuk fermentasi tiga gelas susu.
Pada pembuatan soyghurt, mula-mula susu kedelai dipasteurisasi, dengan merebusnya pada suhu antara 80 dan 90o C selama 30 menit. Kemudian ke dalamnya ditambahkan gula sebanyak 4 sampai 5 persen. Gelatin juga sering ditambahkan (tidak mutlak) sebanyak 0,5 sampai 1,5 persen untuk menjaga agar soyghurt yang dihasilkan stabil dan baik teksturnya. Untuk menambah aroma, dapat pula ditambahkan flavor seperti vanili, orange, strawberi, atau lemon. Hasil campuran ini didinginkan sampai 43o C, baru diinokulasikan (ditambahkan) starter campuran dengan perbandingan yang sama antara L. bulgaricus dengan S. thermophilus, sebanyak 5 persen dari volume susu kedelai. Lalu diinkubasi suhu 45o C, selama 3 jam, atau pada suhu ruang selama 12 jam, yang hasil akhirnya merupakan soyghurt. Untuk bisa bertahan lama soyghurt disimpan pada suhu dingin atau dipanaskan pada suhu 65o C selama 30 menit, kemudian disimpan.

3.      Kerusakan Soyghurt
Produk soygurt sangat mudah rusak sama seperti produk-produk hasil pertanian yang lainnya, karena soygurt ini kaya akan gizi yang juga dimanfaatkan mikroba dalam pertumbuhannya. Beberapa bahan dianggap rusak bila menunjukkan penyimpangan konsistensi serta tekstur dari keadaan yang normal. Bahan yang normal mempunyai konsistensi kental bila keadaannya menjadi encer maka hal ini merupakan suatu tanda kerusakan (Winamo dan Laksmi, 1974) . Umumnya kerusakan pada produk soyghurt adalah terjadinya penyimpangan pH, bau busuk dan timbulnya whey serta timbulnya gas.
Bentuk kerusakan lain adalah kerusakan yang ditimbulkan oleh mikroba . Kerusakan oleh mikroba dapat diketahui secara visual misalnya timbulnya miselium dan spora, atau dapat diketahui dari timbulnya bau yang menyimpang dan dapat pula dengan pemeriksaan secara mikroskopis. Kerusakan yang sering terjadi pada soygurt adalah tumbuhnya jamur pada permukaannya (Helferich dan Weshoff, 1980) . Contohnya soygurt pada pH 3,9 sampai 4,2 dalam penyimpanan suhu dingin bila terkontaminasi maka akan cepat mengalami kerusakan karena perkembangan jamur dan ragi.
Kerusakan pada penyimpanan suhu kamar kerusakan akibat tumbuhnya di permukaan soygurt dan kerusakan akibat timbulnya whey yang berlebihan. Whey yaitu cairan berwarna kuning kehijauan yang terpisah dari soyghurt (Helferich dan Weshoff, 1980). Kerusakan yang diakibatkan oleh timbulnya whey yang berlebihan menunjukan besarnya perubahan kualitas soyghurt selama penyimpanan suhu kamar. Pada penyimpanan suhu kamar pada hari ke ketiga sudah terjadi kerusakan dengan penurunan pH yang sangat besar Serta total asam yang tinggi .
Kerusakan pada suhu 10°C umumnya disebabkan karena timbulnya jamur pada permukaan soyghurt . Dari hasil penelitian diketahui bahwa kerusakan soyghurt pada penyimpanan suhu 10°C mulai timbul pada minggu ke-3 penyimpanan . Penelitian menunjukkan bahwa soyghurt dapat dikatakan aman dan kerusakan pada penyimpanan suhu 10°C sampai 2 minggu penyimpanan . Soyghurt yang segera disimpan pada suhu 4 - 5°C masih baik untuk dikonsumsi setelah 7 - 10 penyimpanan (Helferich dan Westhoff, 1980).

4.      Metode Penyimpanan
Penyimpanan yoghurt pada prinsipnya adalah pengawetan yoghurt itu sendiri . Pengertian pengawetan menurut Winarno dan Laksmi (1974) adalah suatu tehnik atau tindakan yang dilakukan oleh manusia pada suatu bahan sedemikian rupa sehingga bahan tersebut tidak mudah rusak. Selanjutnya dikatakan bahwa pengawetan bertujuan menghambat atau mencegah terjadinya kerusakan, mempertahankan kualitas dan menghindari terjadinya keracunan. Untuk produk air susu yang difermentasi, sifat asam cukup untuk mencegah terjadinya kerusakan oleh bakteri proteolitik atau bakteri yang tidak tahan asam (Frizier dan Weshoff, 1978) .
Menurut Jawetz (1980), bahwa penyimpanan pada suhu rendah merupakan salah satu cara pengendalian dari pembiakan mikroorganisme. Selanjutnya dikatakan bahwa pada suhu rendah aktivitas kuman sangat terhambat dan hampir tidak ada aktivitas pada suhu di bawah titik beku. Frazier dan Weshoff (1978) mengatakan bahwa keadaan dingin biasanya mengakibatkan penurunan dalam jumlah besar mikroorganisme yang hidup dalam suatu makanan, tetapi keadaan dingin juga dapat menyebabkan denaturasi sel-sel protein. Penanganan soyghurt setelah inkubasi dengan pembekuan, tidak memperlihatkan efek kerusakan pada kerusakan pada biakan starter soyghurt atau aktivitas laktosa (Speck dan Geoffrion,1980).

5.      Penyimpanan Pada Suhu Rendah
Penyimpanan suhu rendah dapat memperpanjang masa hidup jaringan-jaringan dalam soygurt karena menghambat aktivitas mikroorganisme. Penyimpanan dingin tidak membunuh, mikroba, tetapi hanya menghambat aktivitasnya, oleh karena itu setiap bahan pangan yang akan didinginkan harus dibersihkan lebih dahulu. Dibawah ini adalah suhu yang sesuai umtuk bahan pangan untuk penyimpanan suhu rendah:

Pada table diatas Soyghurt termasuk hasil olahan yang cocok disimpan pada suhu 3.3-7,6 oC yang berarti ini merupakan pendinginan pada suhu di lemari es. Dengan penyimpanan pada suhu rendah soyghurt akan tahan lama kira-kira 3-4 hari yang tidak memungkinkan untuk mengganggu emulsi susu yang biasanya krim menggumpal pada bagian atas. Dengan metode ini kakarakteristik dari soyghurt dapat dipertahankan dengan tidak mengubah warna, tekstur, aroma pada soygurt itu sendiri.
PENUTUP

Kesimpulan
            Berdasarkan uraian tentang penyimpanan produk turunan kacang kedelai yaitu soyghurt yang kami ambil dari berbagai literature dapat disimpulkan bahwa produk ini harus disimpan pada suhu rendah karena didalam produk ini terdapat mikrobia yang berperan penting dalam pembuatan produk serta menjadi cirri khas bagi produk tersebut.

Saran
            Berdasarkan  uraian serta kesimpulan tentang penyimpanan soyghurt ini maka apabila memproduksi soyghurt perlu menyiapkan juga refrigerator atau tempat penyimpanan yang dingain lainnya. Kalaupun berada disuhu ruang sebaiknya tidak lebih dari 2 jam.
  
  

DAFTAR PUSTAKA

Balai Penelitian Ternak. 1997, Proses Pembuatan dan Peyimpanan yang Baik Pada Yogurt. Bogor
Santoso. 2009. Susu dan Yogurt Kedelai. Laboraturium Kimia Pangan UGW. Malang
Munab Abdul. 2008. Kajian Sifat Fisik Yogurt selama penyimpanan pada suhu 40C. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak. Universitas Brawijaya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar